Penghasilan tiada henti !

Minggu, 20 November 2016

Tiga Kota

Di kamar sebuah rumah yang belum bertemu peminatnya disebuah komplek hunian dengan empat
 ratus bangunan rumah yang telah berdiri. Berada di pojok satu blok. Baju-baju kotorik  yang belum sempat dicuci menumpuk didalam semacam keranjang plastik berongga. Diatasnya handuk setengah basah barusan aku lempar.

Diseberangnya, diruang tamu yang kosong perabot, bersandar lemari kayu ukuran sedang warna hitam diatasnya aku melintangkan besi sedikit panjang yang dimasing-asing ujungnya menyisakan setengah meter besi. Pada besi itu bergantung beberapa baju kering yang belum juga tersentuk setrika. Warna-warni. Merah putih hijau hitam hingga orange. Celana-celana panjang bergantung pula seolah ikut menopang berdirinya sang lemari. Diatas lemari juga tertumpuk kardus-kardus bekas kotak oleh-oleh yang aku bawa dari kampung bulan lalu.

Di luar masih menetes air dari ujung-ujung kain jemuran yang baru saja aku gantung. Aroma pengharum cucian masuk hingga ke kamar yang masih berantakan. Buku-buku, koran dan kertas hasil print out masih berserakan. Sajadah belum dilipat pun.

Radio FM dua band disudut atas rak buku hitam. Disampingnya berjajar botol parfum, botol kecap dan buku sedikit tebal, tafsir.

Disudut kamar dekat pintu kamar, TV yang masih gendut berada diatas meja kaca, menyisakan tempat bagi kotak susu, gelas kotor dan tumpukan tiga hingga lima majalah ibu kota yang dipinjam dari kantor pusat.

Dari kamar ini, dari rumah ini, aku merangkai kejadian-kejadian yang terjadi pada waktu yang sama namun ditempat berbeda. Padang, Jogja dan Bandung. Pada masing-masing kota itu kejadian-kejadian, peristiwa yang dilakukan anak-anak dan istriku aku coba satukan dalam meditasi. Aku satukan mereka dalam kotak fikiranku, aku rangkul mereka ditepian pantai Padang. Di pasir bersihnya. Anak-anak bermain air laut dan pasir, kami biasa duduk- dibatu pemecah ombak mengamati. Sesekali air laut mengejar kaki-kaki kami. Kemudian menuju pasar Ngasem didekat Taman Sari. Mencari pedagang kue Apem langgaman. Kue apem biasa kami beli setelah sekian lama bersepeda. Menikmati kue apem dibawah pohon beringin disamping pasar, sebagaimana beberapa foto dokumen keluarga yang ada.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar