Di kamar sebuah rumah yang belum bertemu peminatnya disebuah komplek hunian dengan empat
ratus bangunan rumah yang telah berdiri. Berada di pojok satu blok. Baju-baju kotorik yang belum sempat dicuci menumpuk didalam semacam keranjang plastik berongga. Diatasnya handuk setengah basah barusan aku lempar.
Diseberangnya, diruang tamu yang kosong perabot, bersandar lemari kayu ukuran sedang warna hitam diatasnya aku melintangkan besi sedikit panjang yang dimasing-asing ujungnya menyisakan setengah meter besi. Pada besi itu bergantung beberapa baju kering yang belum juga tersentuk setrika. Warna-warni. Merah putih hijau hitam hingga orange. Celana-celana panjang bergantung pula seolah ikut menopang berdirinya sang lemari. Diatas lemari juga tertumpuk kardus-kardus bekas kotak oleh-oleh yang aku bawa dari kampung bulan lalu.
Di luar masih menetes air dari ujung-ujung kain jemuran yang baru saja aku gantung. Aroma pengharum cucian masuk hingga ke kamar yang masih berantakan. Buku-buku, koran dan kertas hasil print out masih berserakan. Sajadah belum dilipat pun.
Radio FM dua band disudut atas rak buku hitam. Disampingnya berjajar botol parfum, botol kecap dan buku sedikit tebal, tafsir.
Disudut kamar dekat pintu kamar, TV yang masih gendut berada diatas meja kaca, menyisakan tempat bagi kotak susu, gelas kotor dan tumpukan tiga hingga lima majalah ibu kota yang dipinjam dari kantor pusat.
Dari kamar ini, dari rumah ini, aku merangkai kejadian-kejadian yang terjadi pada waktu yang sama namun ditempat berbeda. Padang, Jogja dan Bandung. Pada masing-masing kota itu kejadian-kejadian, peristiwa yang dilakukan anak-anak dan istriku aku coba satukan dalam meditasi. Aku satukan mereka dalam kotak fikiranku, aku rangkul mereka ditepian pantai Padang. Di pasir bersihnya. Anak-anak bermain air laut dan pasir, kami biasa duduk- dibatu pemecah ombak mengamati. Sesekali air laut mengejar kaki-kaki kami. Kemudian menuju pasar Ngasem didekat Taman Sari. Mencari pedagang kue Apem langgaman. Kue apem biasa kami beli setelah sekian lama bersepeda. Menikmati kue apem dibawah pohon beringin disamping pasar, sebagaimana beberapa foto dokumen keluarga yang ada.
Jendela Rumah Kayu merupakan blog yang berisikan essa, tulisan lepas yang muncul dari pengalaman sehari-hari. Sifatnya ringan, mengalir, menuangkan apa saja yang terbesit didalam pikiran. Tentang segala sesuatu. Sosial, tehnologi, ekonomi, pergaulan, kepenulisan, dunia kerja, hubungan antar manusia yang bisa jadi sudut penyampainnya akan berbeda dengan orang kebanyakan.
Penghasilan tiada henti !
Minggu, 20 November 2016
Sabtu, 12 November 2016
Ilmu Marketing Yang Lupa Dipelajari
Para pengusaha baik yang sudah sukses maupun yang sedang merintis, kalo ditanya mengenai keberhasilannya dalam usahanya seringkali dijawab karena dia menerapkan ilmu-ilmu marketing yang dipelajarinya di bangku kuliah, kursus, seminar, berguru dari perguruan tinggi luar negeri, dll.
Namun sebenarnya ada satu ilmu yang akan memberikan hasil yang luar biasa atas usahanya, begitu pula apabila ilmu ini tidak diterapkan, maka hasil usaha yang dicapai sekarangpun tidak akan langgeng. Ilmu ini disebut ilmu Marketing Langit.
Ilmu Marketing Langit yang bisa kita lakukan adalah :
1. Perbaiki hubungan antara anda dengan pasangan anda (perbaiki hubungan suami istri)
Rejeki suami itu tergantung pada istrinya. Yang ini silahkan anda renungkan...
2. Sholat wajib tepat waktu
3. Sholat Sunnah, minimal Dhuha 6 rakaat dan Tahajud 11 rakaat
Lakukan sholat ini dalam 40 hari berturut-turut tanpa putus dan lihatlah hasilnya
4. Sedekah setiap hari
Sedekah itu lebih baik sedikit tapi rutin setiap hari, daripada sedekah banyak tapi cuma sekali
Lebih baik lagi sedekah banyak dan tiap hari, ya kan bos...
5. Berbakti kepada orang tua
Muliakanlah kedua orang tuamu, hidupmu akan jauh lebih baik dari yang sekarang
6. Silaturahmi
Perbanyaklah silaturahmi, bertemu dengan orang-orang. Jangan hanya dirumah saja. Dengan silaturahmi akan ada informasi-informasi yang kita dapatkan, termasuk informasi bisnis.
Jadi sebelum menjalankan ilmu marketing dunia, dari buku ini-buku itu, ahli marketing ini dan itu, jalankanlah dulu ilmu marketing langit ini. Karena segala sesuatu itu hanya dengan ijin Allah, termasuk banjir order.
Namun sebenarnya ada satu ilmu yang akan memberikan hasil yang luar biasa atas usahanya, begitu pula apabila ilmu ini tidak diterapkan, maka hasil usaha yang dicapai sekarangpun tidak akan langgeng. Ilmu ini disebut ilmu Marketing Langit.
Ilmu Marketing Langit yang bisa kita lakukan adalah :
1. Perbaiki hubungan antara anda dengan pasangan anda (perbaiki hubungan suami istri)
Rejeki suami itu tergantung pada istrinya. Yang ini silahkan anda renungkan...
2. Sholat wajib tepat waktu
3. Sholat Sunnah, minimal Dhuha 6 rakaat dan Tahajud 11 rakaat
Lakukan sholat ini dalam 40 hari berturut-turut tanpa putus dan lihatlah hasilnya
4. Sedekah setiap hari
Sedekah itu lebih baik sedikit tapi rutin setiap hari, daripada sedekah banyak tapi cuma sekali
Lebih baik lagi sedekah banyak dan tiap hari, ya kan bos...
5. Berbakti kepada orang tua
Muliakanlah kedua orang tuamu, hidupmu akan jauh lebih baik dari yang sekarang
6. Silaturahmi
Perbanyaklah silaturahmi, bertemu dengan orang-orang. Jangan hanya dirumah saja. Dengan silaturahmi akan ada informasi-informasi yang kita dapatkan, termasuk informasi bisnis.
Jadi sebelum menjalankan ilmu marketing dunia, dari buku ini-buku itu, ahli marketing ini dan itu, jalankanlah dulu ilmu marketing langit ini. Karena segala sesuatu itu hanya dengan ijin Allah, termasuk banjir order.
Selasa, 08 November 2016
Bisnis remeh temeh hasil jutaan
Mungkin kalo orang mendengar jenis bisnis yang akan aku share disini, kebanyakan akan memandang satu bisnis yang tidak begitu keren. Tapi sebenarnya bisnis ini banyak memiliki keunggulan al :
- mengutamakan dan didasarkan pada niatan untuk berbagi dan membantu
- berdasarkan prinsip bagi hasil
- mengentaskan mitra bisnis dari ketergantungan dengan juragan
bisnis ini aku sebut BRT, Bisnis Remeh Temeh. bisnis ini langsung menyentuh rakyat disektor riil yang kebanyakan dari saudara kita berada disana. Bisnis mikro.
Bisnis ini membiaya usaha-usaha seperti ;
- Jual Kue Cubit, Kue Balok, Cilok
- Bakso, Mie Ayam, Nasi Goreng
- Sekoteng, Mie Rebus, dll
dengan niatan untuk memberikan keuntungan bagi hasil yang lebih berpihak kepada pedagang, maka sasaran utama bisnis ini adalah para pedagang yang sudah menjalankan usaha namun dengan pembagian keuntungan yang kecil untuk mereka 35 hingga 50% dan sisanya untuk Juragan/pemodalnya.
BRT ini justru dibalik, 80 : 20. 80% untuk pedagang dan 20% untuk pemodal, yang diperhitungkan dari keuntungan bersih. Kalaupun itu dirasa masih terlampau besar bisa saja 90 : 10.
Modal yang dikeluarkan oleh pemodal untuk usaha-usaha tersebut adalah meliputi seluruh alat dan perlengkapan usaha; gerobak, alat2 dan modal awal. Pedagang tinggal menjalankan usaha saja.
Pembagian hasil usaha dilakukan setiap hari, setiap kali pedagang menjalankan usahanya. Angka bagi hasil yang awalnya berupa prosentase, untuk memudahkan kedua pihak, bisa langsung diganti dengan angka rupiah. Dengan assumsi atau pengalaman selama ini pedagang membawa pulang keuntungan bersih setiap hari Rp. 100.000,- maka setiap hari pedagang harus menyetorkan bagi hasilnya kepada pemodal sebesar Rp. 20.000,- kalau pun itu dirasa masih terlalu berat bagi pedagang, Rp. 10.000,- per hari pun jadi.
Bisnis ini bukan masalah untung atau rugi, bukan untung berapa dan berapa lama...
Ini adalah bisnis dengan niatan untuk memberikan kesempatan usaha kepada saudara-saudara kita yang belum memiliki cara mau usaha apa. Mereka bukannya tidak mau bekerja tetapi mereka belum mengetahui bahwa rejeki Allah ada dimana-mana, ada didalam setiap usaha kita, ada disekitar kita tidak perlu jauh-jauh ke kota besar.
Dagang adalah pekerjaan yang dianjurkan oleh Rasulullah karena dengan berdagang akan banyak terbuka pintu rejeki. aamiin.
- mengutamakan dan didasarkan pada niatan untuk berbagi dan membantu
- berdasarkan prinsip bagi hasil
- mengentaskan mitra bisnis dari ketergantungan dengan juragan
bisnis ini aku sebut BRT, Bisnis Remeh Temeh. bisnis ini langsung menyentuh rakyat disektor riil yang kebanyakan dari saudara kita berada disana. Bisnis mikro.
Bisnis ini membiaya usaha-usaha seperti ;
- Jual Kue Cubit, Kue Balok, Cilok
- Bakso, Mie Ayam, Nasi Goreng
- Sekoteng, Mie Rebus, dll
dengan niatan untuk memberikan keuntungan bagi hasil yang lebih berpihak kepada pedagang, maka sasaran utama bisnis ini adalah para pedagang yang sudah menjalankan usaha namun dengan pembagian keuntungan yang kecil untuk mereka 35 hingga 50% dan sisanya untuk Juragan/pemodalnya.
BRT ini justru dibalik, 80 : 20. 80% untuk pedagang dan 20% untuk pemodal, yang diperhitungkan dari keuntungan bersih. Kalaupun itu dirasa masih terlampau besar bisa saja 90 : 10.
Modal yang dikeluarkan oleh pemodal untuk usaha-usaha tersebut adalah meliputi seluruh alat dan perlengkapan usaha; gerobak, alat2 dan modal awal. Pedagang tinggal menjalankan usaha saja.
Pembagian hasil usaha dilakukan setiap hari, setiap kali pedagang menjalankan usahanya. Angka bagi hasil yang awalnya berupa prosentase, untuk memudahkan kedua pihak, bisa langsung diganti dengan angka rupiah. Dengan assumsi atau pengalaman selama ini pedagang membawa pulang keuntungan bersih setiap hari Rp. 100.000,- maka setiap hari pedagang harus menyetorkan bagi hasilnya kepada pemodal sebesar Rp. 20.000,- kalau pun itu dirasa masih terlalu berat bagi pedagang, Rp. 10.000,- per hari pun jadi.
Bisnis ini bukan masalah untung atau rugi, bukan untung berapa dan berapa lama...
Ini adalah bisnis dengan niatan untuk memberikan kesempatan usaha kepada saudara-saudara kita yang belum memiliki cara mau usaha apa. Mereka bukannya tidak mau bekerja tetapi mereka belum mengetahui bahwa rejeki Allah ada dimana-mana, ada didalam setiap usaha kita, ada disekitar kita tidak perlu jauh-jauh ke kota besar.
Dagang adalah pekerjaan yang dianjurkan oleh Rasulullah karena dengan berdagang akan banyak terbuka pintu rejeki. aamiin.
Langganan:
Postingan (Atom)